Kina: Karunia Nusantara

Penulis : Maurista Khubna


Tanggal Posting : 05 Mar 2019 09:59 Wib | Dibaca : 2285 | Kategori : Artikel


Konon kina disebut pohon ajaib karena berfungsi sebagai penawar penyakit malaria yang kala itu mewabah dan memakan banyak korban. Kina memang bukan tanaman asli Indonesia. Namun, Indonesia yang dulu bernama Hindia Belanda pernah menjadi salah satu sumber kina terbesar serta menguasai 90% pasar kina dunia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan Andes, meliputi Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia. Masa penjajahan Belanda menjadi awal masuk tanaman kina berkat usul Reinwart, Junghuhn, serta Mulder. Mereka melihat potensi besar yang dimiliki kina dan yakin bila tanaman ini dapat berkembang baik di Indonesia.

Tanaman Kina (Cinchona sp.)
Dok. Heri Syahrian K., MP.

Ekspedisi pertama dilakukan pada abad ke-18 dengan hasil yang mengecewakan karena semua tanaman mati. Namun, mereka tak patah semangat hingga ekspedisi kedua terlaksana pada tahun 1854 dan berhasil mengumpulkan 500 tanaman yang kemudian ditanam di Cibodas, Bogor. Tetapi kegagalan masih terjadi sebab hanya 75 pohon yang mampu bertahan hidup. Junghun tak putus asa, dengan melalukan percobaan pemindahan menuju Pangalengan, Bandung. Benar saja, daerah tersebut memang cocok untuk tanaman kina. Teysmann mempunyai ide untuk mengubah penanaman secara terbuka yang sebelumnya selalu ditanam dibawah naungan hutan. Alhasil kina semakin tumbuh subur.

Keberhasilan aklimatisasi kina di Indonesia mendorong pihak Belanda untuk gencar menanam di daerah lain. Daerah tersebut tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah yaitu Nagrak, Cinyiruan, Cibeureum, Cibitung, Riung Gunung, Kawah Ciwidey, Rancabolang, Talaga Patengan, Cibodas di Gunung Gede, Wonodjampi, dan sebagian kecil ditanam di daerah Dieng. Tercatat produksi tertinggi mencapai 11.000 ton kulit kering/tahun diambil dari lahan seluas 17.000 ha. Menjelang akhir tahun 1863, terdapat 1.151.801 tanaman kina.

Bagaimana nasib Kina kini?

Zaman kejayaan produksi kina Indonesia mulai menurun sejak Perang Dunia II. Jalur ekspor terputus serta kepopuleran khasiat kina sebagai obat malaria tergantikan oleh obat sintetik yang dirasa lebih efektif. Jepang yang menjadi penjajah selanjutnya, melakukan penebangan kina besar-besaran untuk digantikan dengan tanaman palawija.

Kini luas areal kina terus mengalami penyusutan. Badan Pusat Statistika Jawa Barat mencatat bahwa pada tahun 2012 areal kina memiliki luas 1.166 ha dengan produksi 793 ton kulit kering/tahun. Sementara itu, pada tahun 2016 luas areal terus merosot, perkebunan kina hanya memiliki 683 ha areal dengan 71 ton kulit kering/tahun. Pertanaman kina sekarang tersebar di kebun-kebun koleksi antara lain di Cinyiruan, Cibeureum, Bukittunggul, Bungamelur, Rancabolang, Cibuni, Cibitu, Riung Gunung, Kaligua, Tarik Ngarum, Tambi dan Medini.

Proses Pengeringan Kulit Kina
Dok. Heri Syahrian K., MP.

Hasil penelitian membuktikan, bahwa dalam kulit batang kina terkandung 4-13% alkaloid seperti kinin, kinidin, sinkonin dan sinkonidin. Alkaloid adalah senyawa organik bersifat basa mengandung nitrogen yang biasa digunakan sebagai obat. Kulit batang kina selain sebagai obat malaria juga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal, seperti obat penawar kejang, obat penyakit aritmia jantung, bahan baku obat flu, bahan bitter pada minuman, bahan pembuatan pestisida dan kosmetik. Tanaman kina dapat pula dimanfaatkan sebagai penahan erosi.

Permintaan kina diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang. Namun, Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan bahan baku garam kina karena kondisi tanaman dan luas areal yang terus menyusut. Sebenarnya, terdapat klon-klon unggul yang memiliki kandungan SQ 7 (Quinine sulphate) tinggi seperti klon QRC, Cna, Cib 5, KP 105 dan GA 22. Klon – klon ini menjadi harapan untuk masa depan kina yang lebih baik.

Ditulis oleh :

Maurista Khubna (Mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret)
Heri Syahrian K. (Peneliti Pemuliaan Tanaman, Pusat Penelitian Teh dan Kina)

Referensi:

Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Kina Edisi Kedua PPTK 2007

Aklimatisasi  Kina di Indonesia dan India PPTK 2006

Badan Pusat Statistika Provinsi Jawa Barat 2012

Warta Pusat Penelitian Teh dan Kina Volume 24 Nomor 1 2013.


Post Terkait

  • MANFAAT MINUM TEH SAAT BERBUKA PUASA DAN SAHUR

    Tanggal : 29 Apr 2020 10:00:00 Wib

    Salah satu ketakutan kebanyakan orang untuk mengkonsumsi teh saat berbuka puasa maupun sahur adalah teh bersifat diuretik. Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Dadan Rohdiana mengatakan teh mengandung senyawa alkaloid berupa kafein yang mempunyai efek diuretik, meningkatkan volume urin sehingga sering keluar masuk toilet. “Namun jangan khawatir, kafein yang ada dalam seduhan teh tidak sendirian. Kafein di dalam seduhan teh dibarengi juga dengan adanya flavonoid yang mempunyai segudang manfaat,” ujarnya, Selasa (28/4/2020).


  • Benarkah Chloroquine Efektif sebagai Antivirus COVID-19?

    Tanggal : 14 Mar 2020 10:00:00 Wib

    Kejadian virus Corona pertama kali dilaporkan di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina pada tangal 12 Desember 2019. Virus Corona 2019. Sebelumnya virus tersebut bernama SARS-Cov-2 lalu menjadi Novel corona virus (2019-nCoV), kemudian ditetapakan oleh WHO menjadi COVID-19, dalam jangka 4 bulan (sejak Desember 2019 hingga Maret 2020). Penyebaran virus Corona telah menjangkau berbagai negara di penjuru dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Peng Zhou dkk. yang dipublikasikan pada jurnal Ilmiah Nature melaporkan bahwa COVID-19 memiliki kemiripan pada seluruh genom dengan Corona virus yang terdapat pada kelelawar dengan tingkat kemiripan 96%.


  • Aktivitas Senyawa Metabolit Sekunder Pada Kina (Cinchona sp.) dan Manfaatnya

    Tanggal : 28 Feb 2020 14:00:00 Wib

    Kina merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia. Bibit tanaman kina yang masuk ke Indonesia tahun 1854 berasal dari Bolivia. Tanaman kina (Cinchona sp.) telah dikenal manusia sejak zaman dahulu dan pertama kali ditemukan oleh bangsa Indian Peru sebagai obat demam, karena tanaman ini mengandung alkaloid quinoline pada kulit batangnya (Riyadi dan Tahardi, 2005). Spesies kina yang banyak di budidayakan di Indonesia yaitu C. succirubra (kina succi) , C. ledgriana (kina ledger) dan C. calisaya (kina kalisaya). Klon-klon unggul dari tanaman kina antara lain: Cib


  • Repurposing Drug –Tanaman Kina Antimalaria untuk Antivirus

    Tanggal : 30 Jan 2020 09:00:00 Wib

    Dipatiukur, Bandung. Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina, Dr. Dadan Rohdiana melakukan kunjungan ke Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran menemui Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si, Apt. terkait dengan informasi klorokuin yang merupakan analog kuinin sebagai obat malaria namun memiliki kemampuan sebagai obat antivirus Corinavirus Disease (COVID-19). Dalam pertemuannya, Dr. Rohdiana mengangkat mengenai tanaman Kina yang bisa menjadi bahan baku penunjang antivirus tersebut.


  • Rantai Pemasaran Produk Teh Gamboeng

    Tanggal : 05 Jan 2020 10:00:00 Wib

    Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) merupakan lembaga research dan profit center yang bergerak pada komoditas teh dan kina. Dalam dinamika perjalanan bisnisnya, aspek pemasaran masih menjadi tantangan bisnis sampai saat ini. Philip Kotler and Kevin Lane Keller (2007) mendefinisikan pemasaran sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan distribusi gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individu dan organisasi.


Tinggalkan Komentar :


Ketik ulang karakter dari gambar:
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

No Comments Results.