Empoasca, Si Kecil yang “Merepotkan”

Penulis : Administrator


Tanggal Posting : 08 Apr 2019 09:31 Wib | Dibaca : 873 | Kategori : Artikel


Teh merupakan salah satu tanaman perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, dalam proses budidaya tanaman teh, keberadaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses produksi tanaman teh dalam menghasilkan pucuk yang akan dipanen. Salah satu hama utama pada tanaman teh adalah Empoasca sp. Pada awalnya Empoasca sp. bukanlah hama utama tanaman teh namun, hama utama tanaman kapas. Empoasca sp. juga dikenal dengan sebutan Wereng Pucuk Teh (WPT). Selain di Indonesia, WPT juga merupakan hama utama tanaman teh di India dan Jepang.

WPT diketahui pertama kali menyerang perkebunan teh Gunung Mas pada tahun 1998. Pada umumnya terdapat dua periode saat populasi WPT menjadi sangat tinggi yaitu pada bulan Maret - Mei dan September – Desember. Namun, seiring dengan perubahan iklim global, serangan hama WPT dapat terjadi sepanjang tahun. WPT menyerang dengan cara mengisap daun teh dan menyebabkan bagian tepi daun teh keriting, layu dan menguning. WPT berukuran sangat kecil, serangga dewasanya berukuran ± 2,5 mm dan berwarna hijau kekuningan. Namun, meskipun kecil, WPT dapat mengurangi produksi hingga 15 - 20% per tahun bahkan dapat mencapai 50% per tahunnya pada serangan berat. 

Empoasca flavescens (Boateng, 2018)

Serangan WPT telah menyebar ke sejumlah areal perkebunan teh di Jawa Barat menyebabkan produksi teh menurun. Pada tahun 2013, produksi teh per bulan menurun hanya sekitar 1,6 ton. Bahkan, kehilangan produksi di Kabupaten Cianjur mencapai 30% - 40% karena serangan OPT. Gejala serangan WPT tidak mudah dikenali, karena biasanya warna daun tetap terlihat hijau cerah. Padahal jika dilakukan pengamatan secara kuantitatif, seringkali intensitas serangan sudah mencapai tingkat yang berat.

Gejala serangan WPT
Dok. Fani Fauziah

WPT dianggap hama yang “merepotkan” bagi para pekebun karena sifatnya yang polifag. Tidak hanya menyerang tanaman teh dan kapas, ternyata WPT juga memiliki banyak inang alternatif. WPT pertama kali ditemukan di Jerman pada tahun 1974 dan menyebar ke negara Eropa dan Africa bagian Utara, menyerang tanaman kentang, raspberry, tebu dan anggur. Di Indonesia, WPT menyerang kacang tanah, kacang panjang, kacang tunggak, kacang kedelai, ubi, kacang polong, dan Leguminose.

Hingga saat ini, pengendalian WPT masih menggunakan insektisida sintetik karena dapat menekan intensitas serangan dengan cepat. Di sisi lain, aplikasi pestisida yang terus menerus dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkan efek negatif. Selain dapat menyebabkan resistensi dan resurgensi, residu pestisida juga dapat tertinggal di produk akhir teh. Selama beberapa tahun terakhir, produk teh hitam dan teh hijau Indonesia ditolak oleh Uni Eropa dengan alasan melebihi Batas Maksimum Residu (BMR).

Pada dasarnya, ada hal penting yang seringkali diabaikan oleh para pekebun, yaitu kegiatan monitoring. Monitoring merupakan salah satu komponen pengendalian yang tidak dapat dipisahkan dari konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pada intinya, penerapan PHT di perkebunan teh bertujuan untuk menjaga lingkungan kebun. Dengan menerapkan PHT, kegiatan pengendalian menjadi lebih terencana efektif, dan efisien.

Kegiatan monitoring sangat diperlukan untuk menentukan teknik pengendalian mana yang akan dipilih. Teknik pengendalian sebaiknya dilakukan sesuai dengan tingkat intensitas serangan WPT. Namun, kegiatan monitoring seringkali tidak berjalan secara konsisten atau bahkan tidak dilaksanakan sama sekali. Monitoring dianggap menyulitkan karena keterbatasan sumber daya manusia di kebun. Pada akhirnya, penentuan tingkat intensitas serangan hanya dilakukan secara kualititaif, yaitu dengan melihat penampakan pucuk teh. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan kekeliruan, karena hasil penilaian dapat berbeda antara satu petugas dengan petugas lainnya.

Iklim akan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, demikian juga dengan OPT dan tanaman teh akan terus beradaptasi. Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan pestisida sebagai pengendalian yang dianggap paling “ampuh”. Teknik pengendalian juga harus terus berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi. Penggunaan pestisida sintetik tidak hanya berdampak pada hama sasaran, tetapi juga dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, sudah saatnya menerapkan PHT untuk mengatasi WPT, Si Kecil yang “merepotkan”.

 

Disusun Oleh

Ines Ramariyanti (Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran)

Fani Fauziah (Peneliti Proteksi Tanaman, Pusat Penelitian Teh dan Kina)

Daftar Pustaka

Boateng, K.G.A. 2018. Review of Leafhopper Empoasca flavescens a Major Pest in Castor Ricinus communis.https://www.researchgate.net/profile/Kwadwo_Agyenim-Boateng2/publication/326092371/figure/fig1/AS:643280840695812@1530381512871/An-image-of-the-leafhopper-Empoasca-flavescens.png. [Diakses : 2 April 2019].

Dharmadi, A. 1999. Empoasca sp., Hama Baru di Perkebunan Teh Indonesia. Prosiding Pertemuan Teknis Teh Nasional. Pusat Penelitian Teh dan Kina.

Indriati, G., Funny Soeshanty. 2015. Hama Helopeltis spp. dan Teknik Pengendaliannya pada Pertanaman Teh (Camellia sinensis). SIRINOV, Vol 2, No 3, Desember 2014 (Hal : 189-198).

Mu, D., Cui, L., Ge, J., Wang, M. X., Liu, L. F., Yu, X. P., Zang, Q. H. & Han, B. Y.. 2012. Behavior responses for evaluating the attractiveness of specific tea shoot volatiles to the tea green leafhopper, Empoasca vitis. Insect Science, 19:229-238.

Widayat, W. 2007. Hama-Hama Penting Pada Tanaman Teh dan Cara Pengendaliannya. Seri Buku Saku 01. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung. 24 hlm.

Zhang, Z. Q., Sun, X. L., Luo, Z. X., Bian, L. & Chen, Z. M. 2014. Dual action of Catsia tora in tea plantation: repellent volatiles and augmented natural enemy population provode control of tea green leafhoper. Phytoparasitica. DOI.10.1007/s12600-014-0400-y

 

 

 

 

 

 

 


Post Terkait

  • Kebutuhan Unsur Hara Nitrogen Pada Tanaman Teh

    Tanggal : 12 Aug 2019 10:50:00 Wib

    Kesuburan tanah pada berbagai lahan pertanaman teh bervariasi sesuai dengan jenis tanah (kesuburan potensial) dan kadar hara yang tersedia pada lapisan atas / solum (kesuburan aktual) tanah. Kesuburan potensial dan aktual tanah setiap blok kebun berbeda-beda, sehingga kemampuan tanah menyediakan hara bagi tanaman juga berbeda-beda.


  • Pemetikan Halus Pada Tanaman Teh, Apakah Itu?

    Tanggal : 29 Jul 2019 10:45:00 Wib

    Pemetikan merupakan kegiatan pengambilan atau pemungutan bagian tanaman teh berupa pucuk dan juga daun-daun muda yang sudah memenuhi ketentuan dan berada pada bidang petik (Santoso et al, 2006). Pemetikan dilakukan sebagai usaha untuk membentuk kondisi tanaman teh agar mampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan. Dalam hal ini mutu standar teh sangat bergantung pada jenis petikan, jenis petikan yang tepat atau sesuai akan menghasilkan mutu teh yang tinggi. Oleh karena itu, pemetikan yang dilakukan harus berdasarkan ketentuan-ketentuan sistem petikan dan syarat-syarat pengolahan yang berlaku.


  • Pemetikan Teh dengan Mesin Petik

    Tanggal : 15 Jul 2019 10:30:00 Wib

    Tenaga pemetik merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam upaya menghasilkan produk teh yang berkualitas dengan kuantitas yang maksimal. Ketersediaan tenaga pemetik yang sesuai dengan rasio tenaga pemetik akan membantu dalam proses pencapaian target produksi yang telah ditetapkan.Menurut Deptan pada tahun 2007, peningkatan kualitas teh masih menghadapi beberapa tantangan dan kendala yang diantaranya adalah produktivitas tanaman yang belum optimal, meningkatnya biaya produksi sedangkan harga jual relatif rendah serta tingkat konsumsi teh di Indonesia yang masih rendah.


  • Penjaga Kualitas Teh

    Tanggal : 01 Jul 2019 10:30:00 Wib

    Ayo nge-Teh !!! Tahukah Anda? Di era modern ini teh menjadi minuman paling banyak dikonsumsi setelah air mineral dan menjadi favorit semua kalangan masyarakat. Teh kerap kali ditemukan di berbagai tempat makan dan dapat dinikmati secara gratis. Teh merupakan sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok yaitu, teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih (Lelita Dea Ira et al., 2018).


  • Purple Tea, Teh Jenis Baru yang Memiliki Segudang Manfaat

    Tanggal : 17 Jun 2019 10:00:00 Wib

    Mutasi genetik dapat menyebabkan perubahan pada tanaman, seperti perubahan fisiologi dan morfologi tanaman. Salah satu hasil mutasi genetik pada tanaman teh adalah jenis purple tea. Purple tea merupakan jenis teh baru yang mulai berkembang di Indonesia. Penampakan daun purple tea lebih gelap jika dibandingkan daun teh pada umummnya. Negara Kenya sudah mengembangkan kultivar dari purple tea yang bernama TRFK 306/1 selama 25 tahun.


Tinggalkan Komentar :


Ketik ulang karakter dari gambar:
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

No Comments Results.