Sedikit Demi Sedikit Menjadi Bukit

Penulis : Administrator


Tanggal Posting : 04 Nov 2019 08:00 Wib | Dibaca : 281 | Kategori : Artikel


Gambar 1. Pemetikan (Dokumentasi pribadi)

Tanaman teh merupakan jenis tanaman yang dipanen bagian vegetatifnya. Oleh karena itu, sangat penting menjaga kondisi tanaman agar produksi pucuknya berkelanjutan. Kegiatan pemetikan pucuk teh tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pemetikan harus sesuai berdasarkan syarat dan ketentuan yang berlaku. Tidak hanya menjaga kuantitas namun juga menjaga kualitas hasil  petikan agar menghasilkan produk teh yang berkualitas tinggi.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi produksi pucuk, antara lain, tenaga kerja, luas lahan, dan pemupukan. Namun, tenaga kerja memiliki peranan yang sangat penting sebagai pelaksana kegiatan produksi. Jumlah dan peranan tenaga kerja menjadi penentu utama pada mutu dan kuantitas hasil petikan. Profesi pemetik teh bukan profesi yang sembarangan, hanya tenaga terlatih dan berpengalamanlah yang dapat menjadi pemetik teh.

Salah satu tantangan dalam menangani pemetik teh adalah adanya pemetik yang ceroboh, sehingga pucuk tercecer di jalanan. Ceceran pucuk tesebut disebabkan oleh kegiatan pemindahan pucuk dari bantalan gunting ke kolanding, dan dari kolanding ke waring atau wadah pucuk juga pada saat kegiatan penimbangan pucuk.  Berdasarkan hasil pengamatan saat praktek kerja lapangan (PKL) di PPTK Gambung, diperoleh nilai rata-rata kehilangan pucuk sebesar 0,6% dari 9 mandor petik.

Banyak yang menyepelekan ceceran tersebut, karena berasumsi bahwa nilai kehilangannya sangatlah sedikit. Namun, pada kenyataannya, ceceran tersebut apabila dijumlahkan per tahun akan menimbulkan kerugian kurang lebih 100 juta rupiah.  Pengambilan data dilakukan pada saat musim kemarau yang berarti produksi lebih sedikit dibandingkan dengan musim penghujan. Berdasarkan hasil wawancara, pemetik mengemukakan bahwa saat musim penghujan jumlah ceceran lebih banyak dibandingkan dengan musim kemarau. Sehingga kerugian akibat ceceran tersebut bisa saja lebih tinggi jika dibandingkan saat musim kemarau.  

Oleh karena itu, untuk menghindari kerugian yang lebih besar maka diperlukan kontrol yang lebih ketat lagi oleh mandor. Selain itu, dapat juga dilakukan modifikasi alat-alat penunjang seperti kolanding dengan sayap, bantalan gunting yang lebih besar, penambahan jumlah waring, dan pemasangan terpal saat proses penimbangan. Tentu saja perbaikan ini dapat terlaksana jika seluruh lapisan karyawan bekerjasama dan berkoordinasi.

 

Disusun oleh :

Indah Yustika Putri (Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Lampung )

Adhi Irianto Mastur, S.P. (Peneliti Agronomi Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung)


Post Terkait

  • Benarkah Chloroquine Efektif sebagai Antivirus COVID-19?

    Tanggal : 23 Mar 2020 08:00:00 Wib

    Kejadian virus Corona pertama kali dilaporkan di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina pada tangal 12 Desember 2019. Virus Corona 2019. Sebelumnya virus tersebut bernama SARS-Cov-2 lalu menjadi Novel corona virus (2019-nCoV), kemudian ditetapakan oleh WHO menjadi COVID-19, dalam jangka 4 bulan (sejak Desember 2019 hingga Maret 2020). Penyebaran virus Corona telah menjangkau berbagai negara di penjuru dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Peng Zhou dkk. yang dipublikasikan pada jurnal Ilmiah Nature melaporkan bahwa COVID-19 memiliki kemiripan pada seluruh genom dengan Corona virus yang terdapat pada kelelawar dengan tingkat kemiripan 96%.


  • Repurposing Drug –Tanaman Kina Antimalaria untuk Antivirus

    Tanggal : 16 Mar 2020 09:00:00 Wib

    Dipatiukur, Bandung. Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina, Dr. Dadan Rohdiana melakukan kunjungan ke Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran menemui Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si, Apt. terkait dengan informasi klorokuin yang merupakan analog kuinin sebagai obat malaria namun memiliki kemampuan sebagai obat antivirus Corinavirus Disease (COVID-19). Dalam pertemuannya, Dr. Rohdiana mengangkat mengenai tanaman Kina yang bisa menjadi bahan baku penunjang antivirus tersebut.


  • Rantai Pemasaran Produk Teh Gamboeng

    Tanggal : 20 Feb 2020 09:08:04 Wib

    Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) merupakan lembaga research dan profit center yang bergerak pada komoditas teh dan kina. Dalam dinamika perjalanan bisnisnya, aspek pemasaran masih menjadi tantangan bisnis sampai saat ini. Philip Kotler and Kevin Lane Keller (2007) mendefinisikan pemasaran sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan distribusi gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individu dan organisasi.


  • Manfaat Teh Hijau Bagi Penderita Diabetes

    Tanggal : 16 Dec 2019 08:00:00 Wib

    Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolik yang bersifat kronik dimana terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah sebagai akibat kurangnya jumlah insulin, kerja insulin maupun keduanya. Menurut Diabetes Atlas 2000 (International Diabetes Federation) 4,6% atau 5,6 juta jiwa penduduk Indonesia menderita DM dan diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada 8,2 juta penderita DM (Pranoto, 2003).


  • Kesalahan Meminum Teh Hijau

    Tanggal : 02 Dec 2019 08:00:00 Wib

    Teh adalah bahan minuman yang sangat bermanfaat, terbuat dari pucuk tanaman teh (Camellia sinensis) melalui proses pengolahan tertentu dan sebagai bahan minuman alami yang sangat populer diberbagai kalangan sejak 28 abad sebelum Masehi menurut (Suharno, 2000). Teh hijau merupakan teh yang diperoleh tanpa proses fermentasi (oksidasi enzimatis) yaitu dibuat dengan cara menginaktifkan enzim fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar menurut (Lelita, 2019).


Tinggalkan Komentar :


Ketik ulang karakter dari gambar:
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

No Comments Results.