Kesalahan Meminum Teh Hijau

Penulis : Administrator


Tanggal Posting : 02 Dec 2019 08:00 Wib | Dibaca : 377 | Kategori : Artikel


Teh adalah bahan minuman yang sangat bermanfaat, terbuat dari pucuk tanaman teh (Camellia sinensis) melalui proses pengolahan tertentu dan sebagai bahan minuman alami yang sangat populer diberbagai kalangan sejak 28 abad sebelum Masehi menurut (Suharno, 2000). Teh hijau merupakan teh yang diperoleh tanpa proses fermentasi (oksidasi enzimatis) yaitu dibuat dengan cara menginaktifkan enzim fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar  menurut (Lelita, 2019).

Gambar 1. Teh Hijau Gamboeng

(Sumber : PPTK)

Berbagai macam produk minuman dipasaran,  teh merupakan salah satu minuman yang banyak mengandung manfaat bagi kesehatan, karena kandungan polifenol dalam teh hijau sangat bermanfaat bagi kesehatan yakni catechin yang mampu mengurangi resiko penyakit jantung, membunuh sel tumor, dan menghambat pertumbuhan kanker paru-paru, kanker usus, terutama sel kanker kulit. Terdapat 15-30% senyawa catechins yang terdiri dari 59,04% Epigallocatechin gallate (EGCG), 19,28% Epigallocatechin (EGC), 13,69% Epigallocatechin (ECG), 6,39% Epicatechin (EC) dan 1,60% Gallocatechin (GC).

Tetapi  ada kesalahan kesalahan yang di lakukan oleh si peminum teh sehingga teh tidak dapat manfaat nya bagi kesehatan antara lain :

1. Meminum teh dengan susu

Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Charite Hospital, University of Berlin, teh memang berfungsi untuk meningkatkan aliran darah dan kemampuan arteri untuk berelaksasi, tapi kalau dicampur susu justru dapat menghambat efek perlindungan yang dimiliki oleh teh. Jika kamu ingin menarik manfaat dari teh, ya jangan mencampurkannya dengan susu. Masih menurut para peneliti, susu mengandung protein kasein yang dapat menurunkan sejumlah komponen yang terdapat pada teh, seperti catechin yang sangat bermanfaat untuk melawan penyakit jantung. Sebuah riset dari Jerman mengukur efek teh hitam dengan susu dan air hangat bersama 16 sukarelawan wanita, di mana tes-tes membuktikan bahwa teh hitam dapat melebarkan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. “Namun ketika ditambah susu, pembuluh darah bisa dilihat tidak melebar sama sekali,” ungkap Mario Lorenz, salah satu ahli biologi dari European Heart Journal.

2. Jangan Minum Teh Hijau setelah Makan

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang teh hijau adalah mengonsumsinya setelah makan. Banyak orang yang berpikiran jika minum teh hijau setelah makan akan membuang semua kalori yang baru saja didapatkan. Tetapi faktanya, Penelitian Thankachan, et al. (2008) pada wanita menyimpulkan bahwa konsumsi teh 1-2 cangkir sehari menurunkan absorbsi besi, baik pada wanita dengan anemia ataupun tidak. Konsumsi 1 cangkir teh sehari dapat menurunkan absorbsi Fe sebanyak 49% pada penderita anemia defisiensi besi, sedangkan konsumsi 2 cangkir teh sehari menurunkan absorbasi Fe sebesar  67% pada penderita anemia defisiensi Fe dan 66% pada kelompok kontrol. Teh yang dikonsumsi setelah makan hingga 1 jam akan mengurangi daya serap sel darah merah terhadap zat besi sebesar 64% maka dari itu dianjurkan untuk mengkonsumsi teh 2 jam setelah makan.

3. Jangan Minum Teh Hijau yang Super Panas

Minum teh hijau saat masih sangat panas tidak hanya membuatnya terasa hambar, tetapi juga bisa berakhir dengan sakit perut dan tenggorokan. Hal itu ditemukan dalam sebuah studi anyar yang dipublikasikan dalam  International Journal of Cancer beberapa waktu lalu menerbitkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tehran University of Medical Sciences. Para peneliti menemukan, mereka yang menyukai minuman teh dengan suhu lebih dari 60 derajat Celcius dan mengonsumsinya lebih dari 700 ml (dua cangkir besar) berisiko terkena kanker kerongkongan. Menurut Farhad Islami selaku penulis utama penelitian itu mengatakan bahwa cedera termal kronis akibat terpapar suhu panas menyebabkan peradangan yang berujung pada kanker. Hal itu mempengaruhi lapisan esofagus dengan dalam yang mengakibatkan mudahnya karsinogen dicerna lewat makanan atau minuman

 

Disusun oleh :

  1. Fadrin Rizki Aditya (Mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Pasundan)
  2. Sugeng Harianto S. TP (Peneliti Pengolahan Hasil dan Enjiniring, PPTK)

 

Daftar Pustaka :

Antipolis S. 2007. Addition of milk prevents vascular protective effects of tea. European Heart Journal.

Islami F., Poustchi H., Pourshams A., Khoshnia M., Gharavi A., dan Kamangar F. 2019. A prospective study of tea drinking temperature and risk of esophageal squamous cell carcinoma. Tehran University of Medical Sciences. Iran.

Lelita, 2019. Sifat Antioksidatif Ekstak Teh (Camellia Sinensis Linn) Jenis Teh Hijau, Teh Hitam, Teh Oolong dan Teh Putih Dengan Pengeringan Beku (Freeze Drying)Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Univeritas Semarang

Suharno, 2000. Coeficient Of Performance (COP) Energi Pada Withering Trough Dalam Proses Pelayuan Pucuk Teh (skripsi) Jurusan Mekanisasi Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Thankachan P., Walczyk T., Muthayya S., Kurpad A., dan Hurrell R. 2008. Iron absorption in young indian woman :The interaction of iron status with influence of tea and ascorbic acid 1-3. American of Journal Clinical Nutrition, 87(4), 881-886.


Post Terkait

  • Benarkah Chloroquine Efektif sebagai Antivirus COVID-19?

    Tanggal : 23 Mar 2020 08:00:00 Wib

    Kejadian virus Corona pertama kali dilaporkan di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina pada tangal 12 Desember 2019. Virus Corona 2019. Sebelumnya virus tersebut bernama SARS-Cov-2 lalu menjadi Novel corona virus (2019-nCoV), kemudian ditetapakan oleh WHO menjadi COVID-19, dalam jangka 4 bulan (sejak Desember 2019 hingga Maret 2020). Penyebaran virus Corona telah menjangkau berbagai negara di penjuru dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Peng Zhou dkk. yang dipublikasikan pada jurnal Ilmiah Nature melaporkan bahwa COVID-19 memiliki kemiripan pada seluruh genom dengan Corona virus yang terdapat pada kelelawar dengan tingkat kemiripan 96%.


  • Repurposing Drug –Tanaman Kina Antimalaria untuk Antivirus

    Tanggal : 16 Mar 2020 09:00:00 Wib

    Dipatiukur, Bandung. Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina, Dr. Dadan Rohdiana melakukan kunjungan ke Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran menemui Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si, Apt. terkait dengan informasi klorokuin yang merupakan analog kuinin sebagai obat malaria namun memiliki kemampuan sebagai obat antivirus Corinavirus Disease (COVID-19). Dalam pertemuannya, Dr. Rohdiana mengangkat mengenai tanaman Kina yang bisa menjadi bahan baku penunjang antivirus tersebut.


  • Rantai Pemasaran Produk Teh Gamboeng

    Tanggal : 20 Feb 2020 09:08:04 Wib

    Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) merupakan lembaga research dan profit center yang bergerak pada komoditas teh dan kina. Dalam dinamika perjalanan bisnisnya, aspek pemasaran masih menjadi tantangan bisnis sampai saat ini. Philip Kotler and Kevin Lane Keller (2007) mendefinisikan pemasaran sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan distribusi gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individu dan organisasi.


  • Manfaat Teh Hijau Bagi Penderita Diabetes

    Tanggal : 16 Dec 2019 08:00:00 Wib

    Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolik yang bersifat kronik dimana terjadi peningkatan kadar glukosa dalam darah sebagai akibat kurangnya jumlah insulin, kerja insulin maupun keduanya. Menurut Diabetes Atlas 2000 (International Diabetes Federation) 4,6% atau 5,6 juta jiwa penduduk Indonesia menderita DM dan diperkirakan pada tahun 2020 nanti akan ada 8,2 juta penderita DM (Pranoto, 2003).


  • Perubahan Total Polifenol Teh Hitam pada Produk dan Tahap Pelayuan

    Tanggal : 18 Nov 2019 08:00:00 Wib

    Teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak di produksi dan dikonsumsi di dunia. Pengolahan teh hitam dilakukan melalui proses fermentasi secara penuh, dimana proses fermentasi tanpa menggunakan mikrob sebagai sumber enzim melainkan menggunakan enzim polyphenol oksidase yang terdapat di dalam teh itu sendiri. Kandungan kimia di dalam teh yang paling besar peranannya dalam membentuk cita rasa dan khasiat istimewa adalah polifenol (Rohdiana, 2009).


Tinggalkan Komentar :


Ketik ulang karakter dari gambar:
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

No Comments Results.